Ulas Buku Max Havelaar - Eduard Douwes Dekker - Multatuli
I. Latar Belakang Pengarang
Multatuli atau Eduard Douwes Dekker (1820-1887) menulis Max havelaar setelah selama 18 tahun mengabdi sebagai pegawai pemerintah Hindia Belanda.Karier Multatuli sebagai penulis berlangsung 18 tahun, sama seperti masa kariernya sebagai pegawai pemerintah.Multatuli kemudian mnegasingkan diri ke jerman dan meninggal pada februari 1887.
II. Ringkasan
Buku ini menceritakan bahwa Havelaar yang baru ditugaskan menjabat Asisten Residen di Lebak, Banten, pada tahun 1850-an sangat terkejut karena melihat kehidupan rakyat Bumi Putera di wilayah kerjanya sangat menderita. Havelaar melihat rakyat bukan hanya menderita karena menjadi sasaran eksploitasi pemerintah kolonial lewat praktik sistem tanam paksa, namun juga kerap menjadi korban penindasan sewenang-wenang penguasa feodal pribumi yang dimanfaatkan pemerintah kolonial Belanda untuk mendukung kekuasaan mereka. Havelaar, misalnya, dilukiskan sangat murka dengan praktik penindasan, korupsi, dan perampasan harta benda yang dilakukan Adipati Lebak dan para pembantunya terhadap rakyat.
Havelaar yang prihatin dengan penderitaan rakyat Lebak, kemudian melaporkan berbagai praktik korupsi dan penindasan rakyat yang dilakukan Adipati Lebak beserta kerabat dan para pembantunya kepada Kepala Polisi setempat dan pejabat atasannya. Namun, laporan Havelaar tidak pernah ditindaklanjuti. Havelaar yang geram dengan kondisi ini, melaporkan langsung penindasan yang dialami rakyat Lebak kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda di Bogor. Namun, laporan Havelaar ini pun tidak kunjung ditanggapi.Karena muak dan marah dengan kemunafikan serta penindasan yang dilakukan bangsanya terhadap rakyat pribumi Hindia Belanda, Max Havelaar memutuskan berhenti dari pekerjaannya sebagai pejabat sipil Hindia Belanda. Ia kemudian kembali ke Belanda dan menuangkan rasa frustasinya dengan menulis.
Di negeri Belanda, novel Max Havelaar dengan cepat membuat gerah kalangan konservatif yang mendukung kolonialisme. Namun, di kalangan kaum liberal, kehadiran buku ini tidak hanya disambut baik, namun juga mengilhami mereka untuk mendesak pemerintah Belanda agar memperlakukan rakyat pribumi di Hindia Belanda secara lebih baik. Desakan kaum liberal ini belakangan bahkan berhasil memaksa pemerintah kolonial menjalankan politis etis atau politik balas budi kepada rakyat Hindia Belanda; irigasi, edukasi, dan transmigrasi.
Lewat politik etis yang salah satunya berbentuk pemberian kesempatan bersekolah bagi kaum Bumi Putera, di kemudian hari lahir kaum terpelajar dari kalangan pribumi. Hal yang pada akhirnya justru menjadi bumerang bagi kekuasaan kolonial Belanda sendiri. Karena dari kalangan kaum terpelajar inilah lahir sejumlah aktivis pergerakan kebangsaan yang berupaya memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
III. Kelebihan
Ada beberapa tulisan yang bernilai sastra. Terdapat fakta sejarah yang terungkap dengan sangat lembutnya. Tekuatan guncanganan telah diperlihatkan dengan keberanian Eduard Douwes Dekker, dalam menghadapi Pemerintah Belanda untuk membuktikan kekeliruan isi bukunya.
IV. Kekurangan

Komentar
Posting Komentar