Ulas Buku Rakyat dan Negara - Onghokham

 


  1. Sukarno : mitos dan realitas  

Sukarno mempunyai kepribadian yang kompleks. Ia dilahirkan di bawah bintang Gemini yang menurut pendapatnya sendiri memberi corak beraneka-warna pada kepribadian itu. Persoalan sukarno bersangkut-paut pada masa kekuasaannya, Sukarno digelari Pemimpin Besar Revolusi, Penyambung Lidah Rakyat, Wwalijul Amri, Panglima Tertinggi, dll. Sukarno sendiri berasal dari keluarga priyayi rendahan. Ayahnya seorang guru. Kedudukan sosial ekonomis keluarganya hanya sedikit lebih baik daripada golongan marhaen yang dikemudian hari nasibnya akan diperjuangkan Sukarno. Selain itu Sukarno tidak mempunyai persamaan lain antara dirinya dan kaum marhaen. Pendidikan Sukarno menempatkannya dalam kalangan atas masyarakat Indonesia : ELS ( Sekolah Dasar Belanda) dan HBS (Sekolah Menengah Belanda, tamat 1921). Tahun 1927, ketika sukarno memulai karir politik yang sesungguhnya, tidak lebih dari 78 orang Indonesia yang mempunyai ijazah HBS ini berarti hanya satu diantara 7 juta manusia Indonesia yang memiliki ijazah tsb 

Para pemimpin pergerakan nasional kebanyakan berasal dari mereka yang berpendidikan tinggi. Tanpa memperhatikan ras, agama, asal dan suku bangsa, orang-orang Indonesia yang berpendidikan tinggi yang termasuk golongan elite sendiri. Mereka saling mengenal, berhubungan erat, merasa setingkat dan agak sinis terhadap lainnya, namun bersatu karena adanya suatu jurang dalam yang memisahkan mereka dari rakyat yang buta huruf yang dicengkram keterbelakangan. Neopriayisme mudah timbul diantara mereka. Disamping kedudukan elitisnya, ada juga gangguan terhadap kesadaran sosial pada diri mereka. Dalam hal ini Sukarno menempati kedudukan yang unik, selama masa HBS-nya ia berdiam di rumah HOS Tjokroaminoto pemipin Sarekat Islam dan dengan mudah Sukarno diperkenalkan kepada kalangan nasionalis. Lebih menarik lagi di masa Sukarno muda ini adalah tindakan- tindakannya. Dalam suatu pertemuan Jong Java, bagian dari Budi Utomo, sukarno menganggetkan semua hadirin dengan penolakannya untuk mempergunakan bahasa Java kromo. Sebab sebagai penganut Jawa Dwipa (gerakan untuk menghapuskan pemakaian tingkattingkatan dalam bahasa jawa ) yang lahir di Surabaya, ia menolak pemakaian tingkatan bahasa. Sukarno memakai bahasa Jawa ngoko (rendahan). Dengan jelas sukarno mau menghilangkan kedudukan elitisnya atau menghapuskan elitisme 

Sukarno menulis untuk mempertanyakan kegunaan mengejar cita-cita yang mukuk-mukuk. “Para intelektual harus memikirkan nasib rakyat. “ sikap ini memang sangat berlainan dengan sikap-sikapnya di kemudian hari untuk menggalang persatuan. Akan tetapi, mungkin yang terakhir ini adalah hati nurani Sukarno yang sebenernyapikirkanlah nasib rakyat”. Rakyat selalu menjadi perhatian utama Sukarno. Ucapan belanda  bahwa rakyat Indonesia cukup hidup dengan pendapatan segombang sehari, betul-betul membangkitkan amarahnya. Bagi pemimpin Indonesia lain kemakmuran rakyat memang penting nampun kebebasan pribadi tidak kurang pentingnya. Bagi mereka, populisme Sukarno dapat membahayakan kebebasan pribadi dan pembangunan. Untuk apa menciptakan impian-impian muluku di kalangan rakyat kalau itu tidak dapat dilaksanakan ?. yang menarik dari Sukarno disini adalah 3 unsur pokok pemikirannya, yakni anti-elitisme, anti-imperialisme-kolonialisme.  Dan bagi Sukarno ketigany identic dengan nasib rakyat 

Setelah tamat HBS 1921, sebenernya Sukarno dapat langsung terjun ke dunia politik. Tetapi, sukarno memilih meneruskan studinya di Technische Hoge School ITB. Pematangan diri dan studilah yang dipilihnya dan bukan glamor seorang politikus. Seluruh masa belajar di THS digunakan Sukarno untuk menelan buku- buku mengenai nasionalisme, marxisme, persoalan internasional dan sejarah padahal hal-hal tsb sama sekali tidak diajarkan. Pengaruh buku tsb terlihat dalam pidato pembebasannya di depan pengadilan kolinial 1930 yang terkenal dengan judul “Indonesia Menggugat”. Pidato tsb ditujukan kepada hakim-hakim Belanda dan secara tak langsung kepada rakyat Indonesia terutama golongan cendikiawan. Mengenai kutipan yang diambil dari pemuka sosialis, Sukarno senantiasa mendapat kritik dari para sarjana barat. Dikatakan bahwa Sukarno mengutip mereka secara salah atau diluar rangkaian dimana kata-kata tsb. Sukarno memang hanya memikirkan kegunaan atau kecocokan dengan keadaan Indonesia.  

Tetapi, sukarno dan strateginya demikian sering dibicarakan sehingga kadang-kadang kita lupa tentang apa yang sebenernya menjadi dasar pemikirannya : kapitalisme dan imperialism. Kritik terhadap keduanya terjalin erat dengan cita-cita masyarakat Indonesia idaman Sukarno. Kapitalisme menurut Sukarno adalahsuatu pergaluan hidup yang timbul dari cara produksi yang memisahkan kaum buruh dari alat-alat produksikapitalisme berarah ke pemiskinan”. Dalam pidatonya kemudian, sukarno selalu menyebut penolakannya terhadap sistem masyarakat dimana manusia mengekploitasi sesamanya. Selanjutnya sukarno melihat imperialism ini sebagai sebab kesengsaraan bangsanya, kemiskinan, tidak adanya kebebasan maupun pembangunan. Dan untuk menentangnafsu” yang mencengkram tanah airnya, Sukarno akan serahkan dirinya dan baginya, imperialism adalah obsesi hidup. Dengan kesatuan kekuatan (samenbundeling van alle revolutionaire krachten), Sukarno ingin merebutnya kembali. “nafsu” imperialism ini mengubah tanah-tanahnya yang subur menjadi perkebunan. Ia tidak akan rela sejemput tanah pun dikuasai Belanda, symbol sebuah nafsu yaitu imperialism.  

Strategi : Negara dalam Negara ;(1926-1927) Sukarno tampil menjadi pemimpin politik. Pekerjaan sebagai asisten di THS ditolaknya malahan ia mendirikan Partai Nasional Indonesia sebagai jawaban bagi tawaran kerjasama pihak belanda. Kritik terhadap kapitalisme didasarkan atas agama dan bukan atas struktur sosial. Thn 1926 Sukarno menerbitkan tulisan pertamanya dalam Indonesia muda ; “nasionalisme, islam, dan marxismetulisan ini terutama ditujukan pada kaum elite pergerakan dan bukan kepada rakyat 

Yang demikian menyolok mengenai Sukarno adalah bahwa ia berdiri sendirian, tidak dikelilingi oleh kawan-kawan seperjuangan yang sebanding. Sukarno tidak memiliki tangan kanan dan kiri yang terpercaya kecuali pada akhir kekuasaannya. Subandrio pun bukan alter-ego yang sebenernya. Untuk itu sukarno sudah terlalu lanjut usianya. Pada akhirnya Sukarno hanya memiliki sekutu2, fraksi2, dan pengagum dan bukannya partner. Rencana partai pelopor pada masa kekuasaaanya juga sudah terlambat untuk direalisir. Seperti awal karir politiknya, maka dalam detik-detik terakhir kekuasaan dan hidupnya sukarno berdiri lagi, sendirian 

  1. Refleksi Seorang Peranakan Mengenai Sejarah Cina-Jawa 

Sejarah cina-jawa hingga kini selalu dimulai dengan pernyataan bahwa mereka datang ke Jawa lama sebelum kedatangan Belanda. Kenyataan ini hanyalah suatu keingintahuan sejarah dan tidak relevan untuk pemahaman mengenai masyarakat cina-jawa dewasa ini. Tak satupun keluarga cina di jawa yang dapat menelusuri asal-usul keluarganya lebih awal daripada akhir abad ke 18 dan hanya sedikit keluarga yg telah tua saja yang dapat menelusuri hal tsb. Proses dan periode dalam sejarah memang berjalan lambat. Tidak seperti kejadian-kejadian, proses atau periode tak punya tanggal pasti, kapan mulai, kapan berakhir. Masyarakat Cina-Jawa merupakan salah satu yang lebih dulu dating ke kepulauan Indonesia. Beberapa hal dapat terjadi terhadap masyarakat emigrant misalnya, kemungkinan terserap ke dalam masyarakat setempat, menjadi suatu kelompok minoritas yang mempertahankan unsur-unsur kebudayaan tanah leluhurnya dan menyesuaikan diri dengan situasisituasi setempat atau dapat juga menjadi suatu kelompok minoritas yang dominan seperti Belanda di Jawa. Para pendatang Cina yang tertua mungkin mengambil jalan pertama. Sampai pertengahan abad ke 18 orang-orang cina tampaknya telah terserap dalam jumlah besar ke dalam masyarakat setempah. Proses pembauran sesungguhnya menjadi tidak penting setelah thn 1830, meskipun masih tetap terdapat beberapa kasus kecil sampai sekitar pertengahan abad ke 19. Timbulnya masyarakat peranakan serta konsolidasinya terjadi setelah pertengahan abad ke 18. Pembentukan bertalian dengan timbulnya kekuasaan Belanda di Jawa yang menjadi dominan setelah perjanjian Gianti 1755 yang membagi kerajaan mataram ke dalam beberapa kerajaan kecil 

Yuridiksi VOC terhadap orang-orang Cina merupakan suatu kenyataan dan yg kemudian berfungsi setelah Belanda berkuasa di Jawa. Kecenderungan ini terkonsolidasi pada periode setelah 1830, selama masa penjajahan modern. Orang-orangcina terlembagakan sebagai golongan perantara antara orang eropa dan jawa. Mereka menjadi minoritas kelas dua, kebudayan mereka disesuaikan kepada kondisi-kondisi orang jawa atau hindia belanda. Ini berarti secara hukum orang cina-jawa harus meleburkan diri ke dalam sistem hukum belanda. Hal ini terbukti sulit karena keduanya datang  ke hindia belanda karena kesempatan ekonomi. Struktur dan nilai masyarakat peranakan tumbuh di sekitar 3 unsur ; harta kekayaan, keluarga, dan warisan dan dalam zaman modern, kelangsungan kedudukan keluarganya. Unsur- unsur ini menjelaskan posisi ekonomi mereka, pengerahan modal dan sistem kredit yang diwaktu sekarang memberi mereka sebuah posisi ekonomi yang kuat di dalam masyarakat yang tak banyak memiliki prinsip tersebut. Cukup ironis bhawa nilai ini di tanah leluhur cina dicurigai sebagai borjuis. Nilai-nilai tersebut, lebih daripada sekedar ideologi  adalah untuk atau menentang kolonialisme : nasionalisme Indonesia atau prientasi ke cina masi tetap merupakan kekuatan motivator masyarakat peranakan Perwujudannya mungkin berbeda dari periode ke periode, namun nilainya secara dasar tetap sama. Dalam permulaan abad ini, nilai-nilai tersebut makin kurang didasarkan atas keluarga besar, dan pada abad ke-20 atas keluarga inti. Cara untuk mencapai tujuan mempertahankan status keluarga mungkin berbeda antara warisan atau pendidikan, namun substansinya tetap sama. Akan tetapi, mungkin selalu terdapat suatu pengaruh yang sedang-sedang saja terhadap sistem nilai dasar masyarakat peranakan yaitu elitenya yang selalu lebih merasa aman dalam hidupnya, posisi dan hak-hak istimewa dan yang karena itu selalu menekankan lebih banyak pada kemampuan penyesuaian diri terhadap kondisi-kondisi setempat sebagai jalan keluar bagi keamanan mereka. Secara implisit, sistem nilai keluarga peranakan: harta milik dan warisannya, tepat menyentuh masalah dasar dalam mempertahankan posisi ekonomi-sosial di Indonesia, Orang-orang Indonesia menganggap periode kolonial didominasi oleh minoritas asing. Di antara minoritas asing ini, peranakan telah menjadi warganegara 56 Indonesia (WNI). Secara mendasar orang Indonesia tidaklah menaruh perhatian terhadap masalah WNI keturunan Cina. Masalahnya adalah bagaimana mewujudkan hak-haknya sendiri. Masalah-masalah Indonesia adalah sangat besar, kompleks dan menanti penyelesaian. Masalah Indonesia ini sesungguhnya akan ditentukan bukan sebagai masalah terpisah melainkan harus dilihat dalam konteks Indonesia sendiri. 

  1.  PENELITIAN SUMBER-SUMBER GERAKAN MESIANIS 

 

Pada bulan November 1885, para pemilik tanah di desa Patik (Kawedanan Pulung, Kabupaten Ponorogo, Karesidenan Madiun) yang berjumlah kira-kira 100 orang mengangkat carik-desa mereka sebagai ratu baru dengan gelar Pangeran Lelono, yang akan menghapuskan pajak-pajak. Selain itu, gerakan itu bertujuan untuk membunuh semua pejabat Belanda setempat. Sebab mereka membebani rakyat dengan pajak-pajak tinggi yang merusak "wongcilik " yang "tidak bisa memakai celana karena uangnya dipakai untuk membayar pajak". Pemberontakan ini dapat dipadamkan dalam satu hari tanpa meminta korban manusia. Hanya rumah kontrolir Belanda di Pulung dirusak. Dalam meneliti sebab-sebab pemberontakan di desa Patik itu, pejabat-pejabat Belanda justru menelusuri kemungkinan adanya intrik-intrik keluarga bupati setempat, biarpun yang terakhir ini berjasa sekali dalam memadamkan pemberontakan. Kemudian diketemukan bahwa salah seorang pemimpin pemberontakan. adalah seorang priyayi keturunan bekas keluarga Bupati Ponorogo. Hal ini dijadikan alasan utama dalam menilai sebab-sebab pemberontakan. Isyu pajak dipindahkan kepada persoalan lain; perbandingan tingkat kemakmuran para pemberontak dan kemiskinan penduduk lain. Para pejabat Belanda berdalih: bila pajak menyebabkan kemiskinan, tentu penduduk miskin lain akan ikut serta dalam usaha membunuh orang-orang Belanda. Padahal, para pemberontak itu justru para pemilik tanah yang termasuk golongan mampu 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ulas Buku Bumi Manusia - Pramoedyia Ananta Toer